Wednesday, October 23, 2013

Mengenal dan Memahami Makna Surat Al-Fatihah

Sebenarnya saya tidak ingin membahas tentang Mengenal dan Memahami Makna Surat Al-Fatihah di blog gaptect, karena blog ini bersisikan tentang hal-hal personal dari admin. Ada blog khusus yang saya buat khusus untuk membahas perkara agama, tetapi memang saya sembunyikan identitasnya, karena blog tersebut hanya berfungsi sebagai catatan hukum agama yang sesuai dengan prinsip yang di pegang dan untuk mengingatkan hal-hal penting bagi saya. Tetapi gak masalah kali ini saya coba sedikit menshare tentang Mengenal dan Memahami Makna Surat Al-Fatihah, yang saya ambil dari berbagai sumber yang sesuai dengan prinsip beragama yang saya yakini benar.

Wajib membaca surat Al-Fatihah di dalam Sholat.

Kita ketahui bahwa surat Al-Fatihah adalah surat yang wajib di baca dalam setiap sholat, baik sholat sunnah maupun sholat wajib. Jika tidak membaca surat Al-Fatihah di dalam sholat, maka sholatnya tidak syah atau sholatnya harus di ulang, jika terlupa maka harus sujud sahwi.

Sebagaimana hadist dari Ubadah bin Shamit bahwasannya Rasulullah bersabda :"tidak sah sholat seseorang yang tidak membaca surat al-fatihah". 
Hadits ini diriwayatkan oleh jama'ah yaitu : Al-Bukhari ( 756 ), Muslim ( 394 ), Abu Dawud ( 822 ), AT-Tirmidzi ( 247 ), dan An-nasai ( 910 ).

Dari al-Ala bin Abdurrahman bin Ya'qub, bahwasanya dia telah mendengar Abu as-Saib maula Hisyam bin Zuhrah berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa melakukan shalat dengan tidak membaca Ummul Qur'an, maka sholatnya itu terputus, tidak sempurna." Dia (Abu as-Sa'ib) berkata: Aku berkata: Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya aku kadang-kadang berada (bermakmum) di belakang imam. Kemudian dia berkata: Bacalah ia untuk dirimu (secara perlahan) wahai orang Persia, karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Telah berfirman Allah yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi: Aku telah membagi shalat antara diriku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Satu bagian untuk-Ku dan satu bagian lagi untuk hamba-Ku. Bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam: Bacalah oleh kalian (Al-Fatihah, karena).
Jika seorang hamba mengucapkan :
 الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ
{Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam},
maka Allah yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi berfirman: "Hambaku telah memujiku."

Dan jika seorang hamba mengucapkan
 الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
{Maha Pengasih lagi Maha Penyayang}, maka Allah akan berfirman: "Hamba-Ku telah menyanjung-Ku."

Dan jika seorang hamba mengucapkan
مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْن
{Penguasa Hari Pembalasan}, maka Allah akan berfirman: "Hamba-Ku telah memuji-Ku."

Jika seorang hamba mengatakan
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ
{Hanya kepada-Mu kamu menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan}, maka "Ayat ini adalah pemisah bagian Aku dengan hamba-Ku. Dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta."

Jika seorang hamba mengucapkan
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيِْم صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُْوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ
{Tunjukilah kami jalan yang lurus: Jalan orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, bukan (jalan) orang yang Engkau murkai, dan bukan pula (jalan) orang yang sesat.}, maka "Ayat itu adalah bagian hamba-Ku, dan bagi hambaku apa yang ia minta."
(H.R Muslim, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dalam Shohihnya, AtTirmidzi dalam Sunannya)


Tafsir Surat Al-Fatihah

 الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ
Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin.

Segala pujian beserta sifat-sifat yang tinggi dan sempurna hanyalah milik Allah suhanahu wata’ala semata. Tiada siapa pun yang berhak mendapat pujian yang sempurna kecuali Allah suhanahu wata’ala. Karena Dia-lah Penguasa dan Pengatur segala sesuatu yang ada di alam ini. Dia-lah Sang Penguasa Tunggal, tiada sesuatu apa pun yang berserikat dengan kuasa-Nya dan tiada sesuatu apa pun yang luput dari kuasa-Nya pula. Dia-lah Sang Pengatur Tunggal, yang mengatur segala apa yang di alam ini hingga nampak teratur, rapi dan serasi. Bila ada yang mengatur selain Allah suhanahu wata’ala, niscaya bumi, langit dan seluruh alam ini akan hancur berantakan. Dia pula adalah Sang Pemberi rezeki, yang mengaruniakan nikmat yang tiada tara dan rahmat yang melimpah ruah. Tiada seorang pun yang sanggup menghitung nitmat yang diperolehnya. Disisi lain, ia pun tidak akan sanggup membalasnya. Amalan dan syukurnya belum sebanding dengan nikmat yang Allah suhanahu wata’ala curahkan kepadanya. Sehingga hanya Allah suhanahu wata’ala yang paling berhak mendapatkan segala pujian yang sempurna.
 
الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang.

Ar Rahman dan Ar Rahim adalah Dua nama dan sekaligus sifat bagi Allah suhanahu wata’ala, yang berasal dari kata Ar Rahmah. Makna Ar Rahman lebih luas daripada Ar Rahim. Ar Rahman mengandung makna bahwa Allah suhanahu wata’ala mencurahkan rahmat-Nya kepada seluruh makhluk-Nya, baik yang beriman atau pun yang kafir. Sedangkan Ar Rahim, maka Allah suhanahu wata’ala mengkhususkan rahmat-Nya bagi kaum mukminin saja. Sebagaimana firman Allah suhanahu wata’ala: “Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman”. (Al Ahzab: 43)

مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْن
Yang menguasai hari kiamat.

Para ‘ulama ahli tafsir telah menafsirkan makna Ad Din dari ayat diatas adalah hari perhitungan dan pembalasan pada hari kiamat nanti.

Umur, untuk apa digunakan? Masa muda, untuk apa dihabiskan? Harta, dari mana dan untuk apa dibelanjakan? Tiada seorang pun yang lepas dan lari dari perhitungan amal perbuatan yang ia lakukan di dunia. Allah suhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah”. (Al Infithar: 17-19)

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ
Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolonga.

Secara kaidah etimologi (bahasa) Arab, ayat ini terdapat uslub (kaidah) yang berfungsi memberikan penekanan dan penegasan. Yaitu bahwa tiada yang berhak diibadahi dan dimintai pertolongan kecuali hanya Allah suhanahu wata’ala semata. Sesembahan-sesembahan selain Allah itu adalah batil. Maka sembahlah Allah suhanahu wata’ala semata.
Sementara itu, disebutkan permohonan tolong kepada Allah setelah perkara ibadah, menunjukkan bahwa hamba itu sangat butuh kepada pertolongan Allah suhanahu wata’ala untuk mewujudkan ibadah-ibadah yang murni kepada-Nya.
Selain itu pula, bahwa tiada daya dan upaya melainkan dari Allah suhanahu wata’ala. Maka mohonlah pertolongan itu hanya kepada Allah suhanahu wata’ala. Tidak pantas bertawakkal dan bersandar kepada selain Allah suhanahu wata’ala, karena segala perkara berada di tangan-Nya. Hal ini sebagaimana firman Allah suhanahu wata’ala (artinya):
“Maka sembahlah Dia dan bertawakkallah kepada-Nya”. (Hud: 123)

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيِْم
Tunjukkanlah kami ke jalanmu yang lurus.”

Yaitu jalan yang terang yang mengantarkan kepada-Mu dan jannah (surga)-Mu berupa pengetahuan (ilmu) tentang jalan kebenaran dan kemudahan untuk beramal dengannya.
Al Imam Ahmad dalam Musnadnya meriwayatkan dari shahabat An Nawas bin Sam’an radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah memberikan permisalan ash shirathul mustaqim (jembatan yang lurus), diantara dua sisinya terdapat dua tembok. Masing-masing memiliki pintu-pintu yang terbuka, dan di atas pintu-pintu tersebut terdapat tirai-tirai tipis dan di atas pintu shirath terdapat seorang penyeru yang berkata: “Wahai sekalian manusia masuklah kalian seluruhnya ke dalam as shirath dan janganlah kalian menyimpang. Dan ada seorang penyeru yang menyeru dari dalam ash shirath, bila ada seseorang ingin membuka salah satu dari pintu-pintu tersebut maka penyeru itu berkata: “Celaka engkau, jangan engkau membukanya, karena jika engkau membukanya, engkau akan terjungkal kedalamnya. Maka ash shirath adalah Al Islam, dua tembok adalah aturan-aturan Allah, pintu-pintu yang terbuka adalah larangan-larangan Allah. Penyeru yang berada di atas ash shirath adalah Kitabullah (Al Qur’an), dan penyeru yang berada didalam ash shirath adalah peringatan Allah bagi hati-hati kaum muslimin”.

صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
Yaitu jalannya orang-orang yang engkau beri kenikmatan.

Siapakah mereka itu? Meraka adalah sebagaimana yang dalam firman Allah suhanahu wata’ala: “Dan barang siapa yang menta’ati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah sebaik-baik teman. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah dan Allah cukup mengetahui”. (An Nisaa’: 69-70)

غَيْرِ الْمَغْضُْوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ
Dan bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat.

Orang-orang yang dimurkai Allah suhanahu wata’ala adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran akan tetapi enggan mengamalkannya. Mereka itu adalah kaum Yahudi. Allah subhanahu wata’ala berfirman berkenaan dengan keadaan mereka (artinya):
Katakanlah Wahai Muhammad: Maukah Aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuk dan dimurkai oleh Allah”. (Al Ma’idah: 60)
Adapun jalan orang-orang yang sesat adalah bersemangat untuk beramal dan beribadah, tapi bukan dengan ilmu. Akhirnya mereka sesat disebabkan kebodohan mereka. Seperti halnya kaum Nashara. Allah subhanahu wata’ala memberitakan tentang keadaan mereka:
Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. (Al Ma’idah: 77)

Kandungan dalam Surat Al-Fatihah

1. Surat ini terkandung di dalamnya tiga macam tauhid :
Apa itu Tauhid..? Tauhid adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususannya (Syarh Tsalatsatil Ushul, 39). Dan ke-3 tauhid ini tercantum dalam surat Al-Fatihah.
  • Tauhid Rububiyyah, yaitu beriman bahwa hanya Allah subhanahu wata’ala yang menciptakan, mengatur dan memberi rizqi, sebagaimana yang terkandung di dalam penggalan ayat: “Rabbul ‘alamin“.
  • Tauhid Asma’ wa Shifat, yaitu beriman bahwa Allah subhanahu wata’ala mempunyai nama-nama serta sifat-sifat yang mulia dan sesuai dengan keagungan-Nya. Diantaranya Ar Rahman dan Ar Rahim.
  • Tauhid Uluhiyyah, yaitu beriman bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wata’ala semata. Adapun sesembahan selain Allah subhanahu wata’ala adalah batil. Diambil dari penggalan ayat: “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan memohon pertolongan”.
2. Penetapan adanya hari kiamat dan hari pembalasan, sebagaimana potongan ayat: “Penguasa hari pembalasan”.

3. Perintah untuk menempuh jalan orang-orang yang shalih.

4. Peringatan dan ancaman dari yang enggan untuk mengamalkan ilmu yang telah diketahui. Karena hal ini mendatangkan murka Allah suhanahu wata’ala. Demikian pula, hendaklah kita berilmu sebelum berkata dan beramal. karena kebodohan akan mengantarkan pada jalan kesesatan.

Sekian dulu semoga di baca dan mudah di fahami.. Jika ada yang mau menambah untuk saling berbagi silahkan..!menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususannya

1 comment:

  1. Subhannallah. Begitu luas dan dalam makna yang terkandung dalam Surat Al Fatihah ini. Maha Besar ENGKAU Ya ALLAH dengan Segala firmanNYA

    ReplyDelete