Saturday, October 11, 2014

Dugaan kita tentang kehidupan setelah kematian

Dugaan kita tentang kehidupan setelah kematian
Kemaren aku menemui tetangga yang sakit, terkulai lemas di pembaringan salah satu ruangan rumah sakit. Biasanya aku jarang menjenguk orang sakit, padahal sebenarnya aku mengetahui bahwa menjenguk orang sakit adalah salah satu hak seorang muslim terhadap muslim lainnya.  Tapi untuk orang yang satu ini keinginan ku ingin menjenguknya sangat kuat mengingat dia sosok yang suka membantu sesama, tanpa minta balasan. Cuma sayangnya dari sisi semangat beribadah begitu kurang.
Seperti biasanya dia yang sedang ku jenguk adalah orang yang ceria dan supel, Jadi semangat hidup masih terpancar seperti saat dia masih sehat bugar. Melihat kondisi seperti itu aku memberinya semangat dengan ucapan, bahwa "Dengan sakit yang engkau alami, InsyaAllah akan menghapus dosa, jika terus bersabar....". Melihat kondisinya yang menurut pandangan ku sebagai orang yang awam di bidang kesehatan, maka akupun pulang, dengan harapan semangat yang ta curahkan akan terus mengalir di dirinya.


Sehari setelah aku menjenguknya terdengar kabar bahwa kondisinya semakin parah bahkan seperti orang putus asa, karena dia ingin mengakhiri hidupnya dengan harapan bisa bertemu dengan kedua orang tuanya yang telah lebih dulu meninggal dunia. Berita ini menimbulkan 2 hal dalam pikiranku :

YANG PERTAMA, aku membayangkan apa yang dia rasakan sehingga mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya.  Mungkin inilah rasanya jika seseorang sudah merasa sakit yang tak kunjung sembuh hingga ingin cepat berakhir dengan cara mengakhiri hidupnya. Padahal dengan niat putus asa, bisa menyebabkan kita mendapat adzab yang pedih di dalam neraka. Memang kalau mendengar kata neraka di saat sehat mungkin rasanya kata "neraka" tidak begitu menakutkan karena saking seringnya mendengar kata tersebut. Tetapi bagaimana jika kita di ambang kematian. Maka nasehatku untuk diri sendiri dan yang merasa butuh nasehat, teruslah bersabar dan menerima setiap kondisi yang ada. Karena sebenarnya di kondisi kita dalam keadaan sakaratul maut, para setan semakin gencar memberikan rayuannya agar kita masuk kedalam golongan yang merugi di hari menjelang sakaratul maut.

YANG KEDUA, menduga setelah kematian kita akan bahagia karena bertemu dengan kerabat yang telah mendahului kita. Subhanalloh... Film-film yang menceritakan kehidupan setelah kematian telah meracuni bani adam. Kebanyakan orang-orang merasa setelah di cabutnya nyawa akan membawa kita bisa bertemu dengan kerabat, orang tua. Ya ALlah... ketahuilah kita mati prosesnya saja sangat menyakitkan. Setelah itu kita masuk ke dalam kubur dengan kondisi gelap gulita. Mungkin jika anda ingin mendapatkan gambaran yang jelas kondisi di dalam kubur. Bisa mencoba masuk kedalam lubang yang sempit dan tertutup tanpa cahaya. Lalu orang yang masuk dalam kubur akan di kunjungi para malaikat yang memberikan pertanyaan-pertanyaan yang dari setiap jawaban yang kita lontarkan akan menyebabkan nikmat tidaknya hidup di alam kubur. Kondisi berkunjungnya para malaikat itu sangat mencekam... Tidak ada teman, dalam kondisi gelap gulita. Lalu bagaimana nasib bagi yang lalai tidak beribadah kepada Allah...??? Jika anda masuk kepenjara dan di pukuli oleh para sipir tanpa istirahat setiap harinya. Maka kondisi di alam kubur lebih parah dari itu. Jika sehari di penjara serasa seminggu, maka sehari di siksa di alam kubur lebih dari ribuan tahun. Bayangkan rasa putus asa di dalam sel penjara, yang kemungkinan di suatu hari masih bisa bebas. Bagaimana kondisi di alam kubur yang kehidupannya akan di lanjutkan ke alam akhirat, yang akan lebih mengerikan lagi bagi yang tidak taat.

Jadi ... jangan sekali-kali beranggapan bahwa kehidupan setelah kematian kita akan lebih baik,  bisa bertemu keluarga, bermain, seperti halnya kehidupan dunia. Di alam kubur itulah pintu kita menuju ke kehidupan bahagia abadi atau adzab yang pedih tanpa toleransi jam istirahat. Di alam kubur itulah kita menyadari apa yang telah kita perbuat di dunia itu baik atau buruk.

Marilah kita koreksi diri dan amal ibadah. Bagi yang merasa amal ibadahnya sudah banyak, sebaiknya di koreksi lagi apakah ibadah yang di amalkan memang ibadah yang di akui oleh Allah atau hanya sebatas dugaan kita belaka. Kalau hanya sebatas dugaan saja maka bersiaplah setelah kematian kita akan di anggap telah bermaksiat kepada ALlah, yaitu berani menjadi tuhan untuk membuat amal ibadah sendiri, dimana sebenarnya untuk menentukan tata cara amal ibadah adalah Hak Allah semata.

Bagi yang ibadah nya sudah banyak dan sesuai dengan tuntunan Al-Qur'an dan Al-Hadist, maka di teliti niatnya, jaga tawadhunya dan bersabar di atas ketaatan dan juga dalam menjauhi kemaksiatan..
 

Akhirnya tetanggaku tersebut meninggal dunia. Bayangkanlah jika anda menjadi dia, apa yang sedang dia hadapi saat ini...????
Dugaan kita tentang kehidupan setelah kematian

7 comments:

  1. jika dipikir pikir jauh.kematian itu bukan akhir dari kehidupan ya,karena masih ada kehidupan yang akan kekal selamanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul kang.. kehidupan ini lelah..nanti bakal lebih lelah lagi jika hidup dengan hura2

      Delete
  2. Merinding saya membaca tulisan ini
    Semoga kita saling mengingatkan tentang hari "esok"

    ReplyDelete
  3. iya Mas, kalo mengingat kematian, selalu saya akan bilang belum siap.
    padahal itu bisa kapan saja merenggut kita
    OK, yuk kita bareng2 fastabiqul khairat menjauhi kemaksiatan

    ReplyDelete
  4. serem pak bacanya. kehidupan itu tidak ada akhirnya, kematian hanyalah perubahan bentuk dari suatu kehidupan ke dalam bentuk kehidupan lain

    ReplyDelete